You are here

7 May, 2016 - 15:17

Pernahkah anda merasakan sate sapi dengan ukuran potongan dagingnya besar? Jika Anda berkendara melewati jalur utama Semarang-Solo, tepatnya di sekitaran Jalan Diponegoro, Ungaran, akan menemukan Warung Sate Pak Kempleng. Di tempat inilah Anda akan menemukan sate sapi dengan potongan sate daging besar.

Usaha kuliner Pak Kempleng ini pertama kali dilakukan Sakimin. Sekitar tahun 1946 telah menjajakan sate berkeliling berkeliling keluar masuk gang pada malam hari di sekitaran Ungaran dan Babadan.

Selama berkeliling Sakimin sering menjajakan dengan sebutan Gampleng, atau ’sego ngampleng’, maksudnya nasi dengan potongan (sate) daging sapi yang dibakar yang rasanya serasa "ngampleng" (ditampar, Red) di mulut. Namun karena pelanggan dari kalangan etnis Tionghoa susah menyebut gempleng, mereka menyebutnya dengan Kempleng.

Pelanggannya pun banyak sekali, dari berbagai kalangan yang ada di kawasan Ungaran. Kabar enaknya masakan Sukimin ini menyebar dari mulut ke mulut, hingga daerah lain. Hingga setiap orang yang melintas kawasan Ungaran, berusaha mencari sate kempleng di alun-alun Ungaran.

Usaha ini berkembang, akhirnya Sukimin membeli tanah di pinggir Jalan Diponegoro, tepatnya kawasan Gowongan Ungaran, pada sekitar tahun 1960-an, yang menjadi Warung Sate Pak Kempleng pertama kali. Saat berjualan sate, Sukimin dibantu cucunya, H Ahmad Khoiron (62) yang saat itu masih berumur belasan tahun.

Karena di tahun 1972 Sukimin meninggal dunia, usaha ini diteruskan Haji Khoiron dengan dibantu bapak ibunya, H Sumorejo dan Hj Saimah. Ternyata usaha ini semakin berkembang terus, hingga membuka beberapa cabang di sekitar Kabupaten Semarang.

”Sekarang kami punya beberapa cabang, yang dikelola adik-adik saya. Semua dari daging dan bumbu yang sama, sehingga rasanya pun sama,” ungkap Haji Khoiron.

Keistimewaan sate Pak Kempleng ini dari daging pilihan, hanya daging bagian khas dalam yang dipergunakan. Terlebih lemak-lemak yang menempel di daging dibersihkan dahulu. Setelah dagingnya dipotong-potong, direndam dalam bumbu rempah-rempah dengan dicampur gula aren. Semakin lama potongan direndam, semakin bumbu meresap dalam bumbu. Kemudian dibakar di atas tungku arang, sehingga tekstur sate dagingnya terasa lembut dan terasa manis.

Sate sapi biasanya disantap dengan lontong dan nasi. Bumbu kacang dan irisan cabe dan bawang merah ditempatkan di tempat yang berbeda, tidak disiramkan ke atas sate. Harga sate yang enak ini cukup terjangkau, per porsinya dibanderol Rp 40.000 saja.

http://www.indopos.co.id/2015/01/sate-pak-kempleng-rasanya-benar-benar-n...